Kimi no Suizou wo Tabetai sendiri sebelumnya sudah mendapatkan adaptasi film layar lebar yang dirilis pada 28 Juli 2017 kemarin di jepang dan tanggalnya masih belum pasti di Indonesia. Berikut adalah sinopsis dari Kimi no Suizou wo Tabetai.
“Aku murid SMA yang introvert dan kutu buku yang secara kebetulan menemukan sebuah jurnal harian yang berjudul Cerita Teman Sakit. Buku itu ternyata milik Sakura Yamauchi, teman sekelas si Aku, yang mengatakan bahwa dia menderita penyakit pankreas, dan hidupnya tidak akan lebih lama dari setahun.”

“Sakura meminta tokoh Aku untuk menjaga rahasia itu. Karena jika kabar tentang Sakura itu tersebar, maka teman-teman Sakura akan panik luar biasa. Hal yang lumrah terjadi sebab Sakura adalah gadis yang populer di sekolah.”

![]() |
| Cover Light Novel Kimi no suizou wo tabetai di Indonesia oleh penerbit Haru |
nah dari sinopsis ini kayaknya udah keliatan kan ceritanya bakal gimana. awalnya saya pikir novel ini novel horror dan thriller, lho, tapi ternyata bukan kok. Bahkan kontennya pun sangat manis dan sedih.
Jika ada yang pernah menonton anime Shigatsu wa Kimi no Uso, maka mungkin kalian akan menemukan beberapa kemiripan antara novel ini dengan anime itu. Saya bilang mirip karena keduanya mengangkat premis yang sama; tentang lelaki-introvert-dan-pemalu-yang-bertemu-gadis-ceria-dan-aktif-kemudian-hidup-mereka-pun-berubah. Selain itu, kedua gadis itu pun pada akhirnya juga akan meninggal—bukan spoiler lho ya. Karena setahu saya, orang yang menderita penyakit pankreas sangat jarang yang bisa selamat. Tapi tentu saja bukan plagiat, karena walau mengangkat premis yang sama, namun isi keduanya sangat berbeda.
"Aku tidak ingin menyebut hubungan kita dengan julukan yang sudah pasaran seperti itu. Cintakah, persahabatankah. Hubungan kita bukanlah semacam itu." [Hal. 271]
Sejujurnya, ada beberapa hal yang membuat saya cukup terganggu dengan novel terjemahan ini. Saya merasa terjemahannya masih sedikit kaku, dan masih banyak dialog antara karakter yang membuat bingung karena menggunakan istilah bahasa Jepang yang rumit, walaupun catatan kakinya cukup membantu. Saya juga masih menemukan beberapa typo di beberapa halaman meskipun hal itu tidak mengubah esensi ceritanya.
Selain itu, penyebutan julukan tokoh Aku juga terasa agak aneh. 'Teman Sekelas yang Tahu Rahasiaku-kun' terdengar sangat susah untuk diucapkan & diingat. Ada pula beberapa dialog yang terdengar sedikit hambar saat dibaca. Meskipun begitu, saya suka sekali dengan kovernya yang simpel tapi manis.
Dan harus kuakui, novel ini, walaupun mengangkat premis yang cukup klise, eksekusinya sangat baik. Penulis tidak mendramatisasi kisah kedua tokoh, yang biasanya sering terjadi di novel yang mengangkat premis yang sama.
Penulis juga tidak berlebihan dalam mengunggah kisah romansanya, bahkan hubungan kedua tokoh utama mengalir pelan dan natural lewat percakapan-percakapan yang unik di antara mereka. Patut diacungi jempol karena dialognya adalah nilai plus-plus (?) di novel ini.
"Ayo bertemu di surga." [Hal. 76]
Karakter dalam novel ini juga sangat menarik. Tokoh Aku yang introvert dan sering mengatakan sesuatu dengan sarkastik, dan Sakura yang senantiasa meluncurkan dialog tidak biasa bahkan cenderung mengucapkan guyonan kelam yang menyangkut kematian.
Seolah baginya, kematian bukanlah apa-apa dan dia sudah siap menghadapinya. Bahkan pernah ketika dia sedang kencan dengan si tokoh utama pria, dia ingin membeli sebuah tali tambang yang bakal dia gunakan untuk bunuh diri. Bener-bener edan hahaha.
Selain itu, interaksi antara tokoh Aku dan Sakura juga manis banget. Saya suka saat mereka saling bercanda, dan saling berpelukan dengan kaku, hahaha. Namun hubungan mereka bukanlah sahabat atau cinta; tapi lebih dari itu. Bisa dibilang, hubungan mereka itu hubungan yang platonis. Mereka saling berlawanan, namun mereka juga saling berhadapan. Mereka berbeda, namun mereka juga saling membutuhkan.
Saya terharu saat tokoh Aku berkata bahwa dia bersikeras tidak akan memperbolehkan Sakura untuk meninggal, dan Sakura tertawa saat dia menyadari bahwa akhirnya, ada orang yang membutuhkan kehadirannya secara tulus.
Menurut saya, arti dibalik judulnya adalah rasa kagum mereka pada satu sama lain. Tokoh Aku ingin seperti Sakura yang bisa dicintai & mencintai orang lain. Sementara Sakura kagum pada Aku yang selalu sendiri, kuat & tidak memberikan beban pada orang lain. Karena itulah, mereka ingin memakan pankreas orang yang mereka kagumi, agar mereka bisa menjadi seperti orang itu.
Saya sangat kaget dengan endingnya, gak nyangka aja kalau kayak gitu. Ending yang manis, namun pahit di saat yang bersamaan. Penulisnya mahir banget memainkan pembacanya. :'D
Ada alasan dibalik penamaan judul novel ini, ada alasan mengapa tokoh Aku tidak pernah memanggil Sakura dengan namanya, dan ada alasan mengapa tokoh Aku tidak pernah disebutkan namanya. Tidak dapat dipungkiri, novel ini adalah perpaduan yang manis antara kisah romansa remaja, apa itu makna hidup dan bagaimana kematian datang dengan tidak terduga, tanpa ada dramatisasi di dalamnya yang membuat kita merenung tentang apa itu kehidupan sampai akhir novel.
